Geografi Akhir Abad ke 19 - Abad ke 20 (Page 1)



Geografi akhir abad ke 19 – Abad ke 20 (page 1)

Pusat perhatian Geografi pada akhir abad ke-19 adalah terhadap iklim, tumbuhan, dan hewan, serta terhadap bentang alam. Kebanyakan ahli geografi pada periode ini memperdalam Geologi dan mempergunakan metode geologi dalam penyelidikannya. Sebaliknya geografi manusia menjadi semakin lemah.

Pada akhir abad ke-19, geografi manusia masih bercorak geografi Ritter tanpa adanya perspektif baru. Kenyataan ini mungkin disebabkan karena kedudukan Ritter sebagai tokoh geografi di Universitas Berlin setelah kematiannya pada tahun 1859 untuk waktu yang lama tidak ada yang menggantikannya. Demikian juga di Inggris, sejak pengunduran diri Alexander Maconochie di tahun 1830-an menyebabkan geografi di negara tersebut tidak berkembang.Meski di Universitas, geografi manusia tidak memperoleh kemajuan tetapi di luar universitas tidak demikian.

Di Amerika Serikat, Mayor Wisley Powell (1834-1902) mempelajari bentang alam dan sumberdaya air untuk menyarankan penggunaan tanah di suatu tempat dengan sebaik-baiknya. Ahli Geografi lainnya dari Amerika Serikat, yaitu George Peskins Marsh (1801-1882) mempunyai perhatian khusus pada pentingnya mengkonservasi sumberdaya. Pada pendahuluan bukunya yang berjudul Man and Nature, or Physical Geography as Modified by Human Action (1864), Marsh berpendapat bahwa Van Humboldt dan Ritter merupakan tokoh aliran baru dalam Geografi yang pernah mengatakan bahwa “seberapa jauh keadaan lingkungan fisikal mempengaruhi kehidupan sosial dan kemajuan sosial”. Kemudian pada diri Marsh timbul pertanyaan “Bagaimana manusia mengubah permukaan bumi ?” dalam hal ini Marsh ingin menekankan bukan permukaan bumi yang menentukan kehidupan yang lebih baik, namun keadaan yang lebih jelek akan terjadi apabila manusia merusak lingkungan alamnya.

Pada masa ini, tokoh geografi lainnya yang berpengaruh, adalah :
1. Friederich Ratzel (1844-1904)
Tokoh Geografi Jerman, Tokoh Geografi yang pemikirannya memperoleh pengaruh Humboldt – Ritter dan Darwin.
Pada zaman Humboldt – Ritter, paham fisis determinis belum kelihatan tegas. Melalui metodologi ilmiah yang dikemukakan oleh Ratzel, yaitu menyatakan secara tegas bahwa alam menentukan kehidupan manusia, paham fisis determinis menjadi semakin jelas.

Ajaran Ratzel tersebut dikenal dengan “Anthropogeographie” yang juga merupakan judul buku yang ditulisnya. Buku tersebut terbit pertama pada tahun 1882. Menurut Ratzel bahwa selain lingkungan alam, aktifitas manusia merupakan faktor penting dalam kehidupan di suatu lingkungan. Ratzel selain mempelajari geografi juga mempelajari Antropologi secara mendalam. Menurutnya, apabila diadakan perbandingan antara kelompok manusia yang berbeda, pasti manusia itu sendiri yang menentukan dan terutama keadaan yang ditimbulkan oleh lingkungan kebudayaannya.
Ratzel mengungkapkan, adanya pengaruh alam yang menentukan sifat badaniah dan rohaniah manusia. Menurutnya, hubungan sifat badaniah dan rohaniah erat kaitannya dnegan pengaruh alam yang bekerja terhadap manusia. Bangsa-bangsa yang berkulit hitam dan berwarna di dalam penyebarannya mendiami negeri-negeri yang berhawa panas. Keadaan alam di negeri panas yang membuat kulit bangsa-bangsa demikian, keadaan alam juga menentukan keterbelakangan rohani dari bangsa-bangsa yang berkulit hitam dan berwarna.

Berbeda dengan keadaan alam dari bangsa-bangsa yang berwarna kulit putih, yang berhawa ingin dan sejuk menentukan warna kulit putih dari bangsa-bangsa yang mendiaminya. Keadaaan alam yang dingin dan sejuk juga menentukan kemajuan hubungannya dengan keadaan alam yang menentukan pula kemajuan rohani bangsa-bangsa kulit putih. Dalam hubungannya dengan keadaan alam yang menentukan keadaan rohaniah manusia, oleh Ratzel dikemukakan pula hubungannya dengan agama monoteisme.

Menurut pandangan Ratzel, monoteisme ditentukan oleh alam. Di daerah gurun orang mengenal adanya satu kekuasaan dari alam, yaitu satu Tuhan; monoteisme adalah agama bagi bangsa-bangsa yang tinggal di daerah gurun.

Berbeda dengan jilid pertama, jilid ke dua yang terbit pada tahun 1891 menekankan pada uraian tentang persebaran dan kepadatan penduduk, pembentukan pemukiman, migrasi penduduk dan penyebaran kebudayaan. Untuk menjelaskan hal tersebut, Ratzel tidak menitik beratkan pada pengaruh lingkungan terhadap manusia namun kedua fenomena tersebut memiliki kedudukan yang sama.

Pengaruh evolusionisme Darwin tampak jelas pada konsep Labenstraum (living space) dari Ratzel. Konsep ini diterapkan pada pandangan Geografi Politik yang memandang negara sebagai suatu organisme. Negara seperti juga mahluk hidup dapat tumbuh menjadi besar. Untuk pertumbuhan ini memerlukan makanan, jika tidak memperoleh makanan maka organisme akan mati, demikian pula keadaannya dengan negara. Paham ini diterapkan pada geopolitik Jerman sebagai landasan politik ekspansi. Menurut Ratzel, tugas utama Anthropogeograpie adalah :
- Menguraikan daerah-daerah yang didiami oleh manusia (siedlung der Menscheit).
- Meneliti manusia sebagai mahluk yang terikat oleh bumi (als erdgebundenes Wesen).
- Meneliti pengaruh alam terhadap kondisi fisik dan jiwa manusia (Einfluss der Natur auf den Physik und der Geist des Menschen).

2. Ellen C Semple
Pengikut Ratzel yang memperlemah paham fisis determinis atau geografi determinis menjadi “pengawasan geografi” (geographic control).
Menurut paham ini, faktor geografi terutama faktor fisis tidak lagi ditetapkan sebagai faktor yang menentukan kehidupan manusia, melainkan dipandang sebagai faktor yang mengawasi atau mempengaruhi kehidupan manusia.

3. Otto Schluter (1873), Guru Besar Universitas Berlin
Pandangannya dianggap terlalu Fisis determinis, sehingga dipandang terlalu berat sebelah oleh kebanyakan ahli geografi yang berpandangan Antropogeografi. Ia mencari jalan ke luar dari Anthropogeographie. Ia mengemukakan konsep “Kultur-geographie” pada tahun 1872 dan memberi kedudukan terhadap faktor manusia dan kebudayaan.

Menurut Schluter, objek Geografi adalah “landscahaft” yang di dalamnya termasuk tempat tinggal manusia dan jalan lalu lintas. Menurutnya, manusia dengan perkembangan kebudayaannya harus digunakan sebagai dasar kerja geografi. Schluter juga mengemukakan bahwa peralihan dari bidang alamiah ke bidang humanis dari suatu ilmu, tidak terlalu mencolok seperti perbedaan antara faktor iklim dengan faktor bentuk-bentuk permukaan bumi atau perbedaan sifat faktor non manusiawi. Menurut pandangan kulturgeographie (geografi budaya), geografi terdiri atas :
a. Geografi tempat tinggal
b. Geografi Ekonomi
c. Geografi Lalu lintas.

4. Elsworth Huntington (1876), Ahli Geografi Universitas Yale, Amerika Serikat
Pemikiran Geografi Huntington dipengaruhi oleh paham Geografi Ratzel. Pemikirannya tersebut terlihat pada pandangannya yang tertuang dalam karya yang berjudul “Civillization and Climate”. Buku ini terbit pertama kali pada tahun 1915 dan mengalami beberapa kali cetak ulang sampai cetakan ke-enam edisi ke tiga pada tahu 1948.

Ia menyatakan bahwa iklim di suatu tempat memiliki pengaruh yang menentukan terhadap perkembangan aktifitas dan kebudayaan penduduk setempat (determinis iklim), kelompok penduduk dunia yang mengalami kemajuan pesat terdapat di daerah yang iklimnya menunjang untuk kemajuan (iklim sedang).

Bukunya yang lain berjudul “Mainsprings of Civilization” yang ditulisnya pada tahun 1945. Pandangan Geografinya banyak dibahas oleh ilmuwan lainnya, terutama berkenaan dnegan paham determinis iklim yang dikemukakannya. Menurut Huntington, faktor iklim menentukan perkembangan suatu kebudayaan, saat ini paham tersebut banyak yang menentang.

5. Ferdinand von Richthofen (1833-1905), Ahli Geologi yang kemudian beralih menjadi seorang Geografer.
Richthofen memberi rumusan konsep Geografi yang merupakan suatu Sintesa dari pandangan Ritter dan Humboldt. Sebagai seorang ahli Geologi, ia mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan permukaan bumi, adalah bagian luar dari bumi yang terdiri dari bagian padat. Inti dari objek studi Geografi adalah juga yang termasuk segala gejala yang berkaitan dengannya.

Menurut pendapatnya, geografi adalah “pelukisan gejala-gejala dan sifat-sifat permukaan bumi dan penduduknya, disusun menurut letaknya dan menerangkan baik terdapat bersamaan maupun timbal baliknya gejala dan sifat-sifat tersebut”. Dengan pernyataan tersebut, Richthofen telah memberi lapangan kerja pada Geografi.
Pada definisi tersebut, geografi tidak saja diterjemahkan sebagai ilmu yang memberikan uraian dari tempat-tempat dan daerah-daerah saja, namun juga memberikan keterangan-keterangan tentang sebab musabab dari gejala yang dipelajari. Geografi tidak hanya mempelajari manusia, namun juga mempelajari hewan dan tumbuhan. Dengan ini tidak saja Geografi fisis, tetapi geografi sosial pun berkembang.

Pada pidato pelantikan untuk menempati kursi Geografi di Universitas Leipzig (1883), Richthoffen mengemukakan pendekatan baru yang disebutnya pendekatan sistematik. Menurutnya, studi geografi suatu wilayah meliputi susunan keruangan (spatial arrangement), ikatan gejala-gejala bumi yang mencakup gejala fisik, biotik dan gejala manusia yang harus diteliti bentuk, materi, kejadian dan interaksi keruangannya. Studi tersebut disebutnya sebagai Korografi, sedang bidang ilmiah yang berkenaan dengan studi tersebut, adalah korologi. Metode ilmiahnya telah mengarah pada metodologi Geografi modern.

Definisi yang disampaikan Richthofen juga mengundang beberapa pertanyaan mendasar, yaitu :
- Gejala dan sifat apa di permukaan bumi serta penduduknya yang harus diuraikan, mengingat gejala-gejala dan sifat-sifatnya itu beragam.
- Apakah hubungan timbal balik dan laju berbarengan dari gejala-gejala dan sifat-sifat muka bumi dan penduduknya, harus disusun menurut daftar terperinci untuk masing-masing terpisah dan terlepas satu sama lain, apalagi harus disusun berdasarkan tempat.
- Berapa besar atau luas satuan tempat tersebut.

Munculnya pertanyaan-pertanyaan tersebut mendorong tumbuhnya pemikiran lebih lanjut dalam Geografi, baik di kalangan pemikir lama maupun di kalangan pemikir baru di Jerman dan Perancis. Mengingat arah perkembangan Geografi di Jerman pada abad ke-19 masih berada di bawah pengaruh pemikir Ilmu Pengetahuan Alam dan masih memerlukan pengetahuan tentang negeri-negeri di luar Eropa, maka lapangan studi Geografi menurut pemikir Jerman kala itu adalah landschaft (bentang alam) dan Landerkunde (pengetahuan tengan negeri-negeri). Manusia dipelajari sebagai bagian dari alam. Yang dimaksud dengan landschaft adalah suatu daerah yang karena sifat-sifat geografisnya dan yang oleh karena kekhususan kerjasama dari sifat-sifat tersebut merupakan satu kesatuan.

6. Oscar Peschel (1833-1905)
Melakukan kritik terhadap Ritter yang dianggapnya terlalu melebih-lebihkan pengaruh alam.
Peschel berpendapat bahwa Geografi menyelidiki gejala bumi dengan studi komparatif sehingga suatu ilmu dapat dikembangkan secara induktif dan juga membawakan konsep dalam geografi bahwa manusia merupakan pusat perhatian.

0 Response to "Geografi Akhir Abad ke 19 - Abad ke 20 (Page 1)"

Post a Comment